#RiseWithHope bicara soal UNAS.

Diposting oleh Adam Syarief Thmrn on Selasa, 16 April 2013

Press Release
UNAS = Standarisasi Pendidikan yang Gagal Total. evaluasi dan hapuskan!!!

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, pelaksanaan UNAS tingkat SMA/Sederajat yang sedianya diadakan pada tanggal 15-18 April 2013 serentak di seluruh Indonesia tidak berjalan sebagaimana mestinya. Distribusi soal yang kacau dan perusahaan pemenang tender percetakan naskah soal UNAS yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu mengakibatkan 11 Provinsi "molor" melaksanakan UNAS. Padahal, "Proyek Pendidikan" yang digadang-gadang pemerintah sebagai acuan stabilisasi pendidikan nasional itu sudah menghabiskan trilyunan rupiah dana APBN, tentu jumlah yang dikeluarkan pemerintah dengan realitas yang ada tidak sepadan bahkan bisa dikatakan, pemerintah "Gagal" untuk yang kesekian kalinya dalam penyelenggaraan UNAS ini. Sudah jelas-jelas kemunduran pelaksanaan UNAS dibeberapa daerah sudah menyalahi prinsip dan azas keadilan, jika ada kendala seharusnya jadwal UNAS dimundurkan serempak agar tidak terjadi isu-isu buruk terutama tentang kebocoran soal dan jawaban. Akan tetapi nyatanya, pemerintah khususnya Kemendikbud tidak memikirkan hal tersebut.

DPR harus cermat dan evaluasi total
banyak hal yang harus dijadikan bahan evaluasi pelaksanaan UNAS tahun ini, bahkan DPR harus secara cermat dan tegas mengevaluasi pelaksanaan UNAS tahun ini yang kacau-balau ini. Bagaimana tidak? Mulai dari percetakan naskah soal yang tidak beres sehingga mengakibatkan UNAS mundur di beberapa daerah, munculnya mafia bocoran soal UN yang meresahkan sehingga merusak akhlaq dan moral pelajar peserta UN, bahkan tidak sedikit yang melakukan praktek ritual yang menyimpang seperti perdukunan, dan lain sebagainya hanya untuk lulus Ujian Nasional. Bagaimana pemerintah ingin membangun pendidikan nasional yamg baik jika dalam proses didalamnya tidak seperti yang diinginkan, kacau dan tidak tersistem dengan baik.

UNAS merusak karakter dan moral serta akhlaq pelajar, pelajar setiap harinya harus di-cekok'i dan ditakut-takuti dengan pelaksanaan UNAS seakan-akan UNAS adalah momen sakral dan menakutkan padahal tanpa pemerintah menyadari, mereka (pelajar) sudah menghabiskan waktu belajarnya selama 12 tahun bagi yang SMA, dan 9 tahun bagi yang SMP serta 6 tahun bagi yang SD, banyak hal yang mereka dapat antara lain pendidikan moral, etika, karakter dan semua itu seakan-akan hilang dihapuskan oleh 4 hari yang "sakral" yakni Unas (sebagian besar).

Maka, memperhatikan situasi dan kondisi serta pelaksanaan UNAS yang semakin tahun semakin kacau dan buruk, kami tidak ingin sistem pendidikan di negeri tercinta ini makin jelek dan tercoreng. Kami menganggap semua kebijakan pemerintah soal standarisasi pendidikan utamanya UNAS adalah "KEBIJAKAN YANG GAGAL DAN MEMALUKAN"
Kami juga merasa kebijakan "EKSPERIMEN (coba-coba)" ala Kemendikbud ini hanya pemborosan Uang negara via APBN dan menyengsarakan guru dan siswa se-Indonesia.

Maka, kami menuntut dan mendesak kepada DPR dan Pemerintah beberapa hal :
Kepada DPR :
1. Panggil dan evaluasi total seluruh unsur pelaksana dan penyelenggara UNAS termasuk Mendikbud

2. Panggil dan evaluasi salah satu perusahaan percetakan naskah UNAS (PT Ghalia Printing) yang gagal mencetak naskah soal unas tepat waktu. Kami merasa ada indikasi penyimpangan dalam pelaksanaan tender perusahaan tersebut

3. Desak pemerintah untuk menghapuskan UNAS dan memperbaiki serta membenahi alat dan sistem pendidikan terlebih dahulu.

Kepada Pemerintah :
1. Kepada Presiden Republik Indonesia bapak Susilo Bambang Yudhoyono, sudah jelas bahwa Mendikbud "Tidak Becus" dalam hal pelaksanaan dan penyelenggaraan UNAS, maka perlu dievaluasi dan dipertimbangkan posisi Jabatan Mendikbud yang saat ini, belum lagi banyak proyek-proyek pendidikan lain yang sangat meresahkan seperti halnya UN, Kurikulum 2013, dll

2. Benahi terlebih dahulu seluruh infrastruktur pendidikan di Indonesia baik fisik bangunan sekolah, alat pendidikan dan akses ke pusat pendidikan di daerah-daerah terpencil, kami tegaskan UN bukan standarisasi Pendidikan, UN jelas-jelas melanggar prinsip keadilan. Bagaimana mungkin penyama-rataan standarisasi pendidikan nasional ala UN, bagaimana nasib kawan-kawan kami di daerah terpencil? Dipulah terpencil? Di sekolah yang hampir rubuh? Kami mohon agar hal tersebug diperhatikan dengan baik dan seksama.

3. Hapuskan UNAS! Selamatkan etika, moral dan akhlaq pelajar Indonesia.

Demikian pernyataan dan tuntutan kami, semoga bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan menuju Pendidikan Nasional yang lebih baik, lebih maju, lebih bermartabat dan bermoral.

Hidup Pelajar Indonesia!!!
Nuun walqolami wama yasthuruun
More about#RiseWithHope bicara soal UNAS.

#RiseWithHope2 : Menumbuhkan kesadaran kritis menjelang Musda IPM Surabaya

Diposting oleh Adam Syarief Thmrn on Jumat, 12 April 2013

Pagi ini, Sabtu (13/4), PD IPM Kota Surabaya menggelar kegiatan lokakarya materi Musda 18 IPM Surabaya di aula kantor IPM kota Surabaya Jl Sutorejo 73-77. Pagi ini pun saya terperanjak melihat antusiasme kader-kader IPM Surabaya yang "masih" mau diajak belajar mengenai manifesto gerakan pelajar dan konsepsi besar gerakan menuju passion IPM Surabaya, mewujudkan pelajar yang terampil, berilmu dan berakhlaq mulia. Memang disadari passion yang tak mudah diraih dan tak semudah membalikkan telapak tangan Firaun (lagi-lagi firaun...).

Di momen ini pun saya menyadari ternyata ini lah salah satu faktor stimulan utama dalam rangka #RiseWithHope dilingkungan organisasi pelajar muhammadiyah ini, bibit-bibit kesadaran kritis pun muncul disini dan terlihat sekali karakter kritis dan dinamis pelajar Indonesia yang kental dengan ke Ingin Tahuannya yang besar.

Saya pun salut dengan sahabat-sahabat yang menjadi tim materi Musda, yang sudah menguras pemikirannya untuk mewujudkan gagasan dan pemikiran didepan kader-kader peserta lokakarya. Yaa, inilah gerakan, inilah upaya massifikasi gerakan, menuju passion IPM. Selamat berlokakarya.
More about#RiseWithHope2 : Menumbuhkan kesadaran kritis menjelang Musda IPM Surabaya

#RiseWithHope1 : Jalan terjal menuju Musda, passion organisasi yg meledeak-ledak (maybe)

Diposting oleh Adam Syarief Thmrn

Sudah tak terasa 1 Periode ini saya lewati bersama sahabat-sahabat di jajaran pimpinan daerah IPM Kota Surabaya, 2 Tahun sudah kami mengukir asa untuk melejitkan keinginan yang membara sebagai aktivis pelajar. Ya ya, kami berkarya dan berinovasi selama kurun waktu 2 Tahun itu, waktu yang tak sebentar, tetapi juga waktu yang tak lama.
Entah mengapa ya.. Saya ini masih merasa kurang dan merasa tak rela meninggalkan jabatan sebagai ketua unum di PD IPM Sby, why? Bukan masalah gila jabatan, bukan masalah rakus, bukan masalah "kedunyan" melaninkan saya merasa 2 tahun berlalu memimpin PD IPM Kota Surabaya masih kurang memberikan #RiseWithHope pada segenap jajaran dan organisasi tercinta ini. Memang, ideal lah waktu yang dibutuhkan untuk membangung sebuah passion, 2 Tahun juga bukan waktu yang sebentar.

Saya menginstropeksi diri, selama 2 tahun kemarin apa saja yang sudah saya lakukan dan apa yang belum saya lakukan saya sadari ternyata "banyak" juga Pr yang masih belum saya realisasikan pada periode kepempinan saya dulu, sebagai contoh saya belum menggelar JTA/Job Training Administration untuk cabang ranting, hal lain yang mengganjal adalah masih tersisa project rintisan 2 cabang yakni cabang IPM Kenjeran dan Simokerto yang sampai saat ini masih dalam fase koordinasi internal dan penguatan unsur pimpinan. Hal itulah yang sebenarnya masih mengganjal didalam hati sebelum langkah kaki ini bergerak meninggalkan meja pimpinan IPM Surabaya. Memang waktu yang diberikan cukup lama namun merealisasikan hal tersebut ternyata juga tak semudah membalikkan telapak tangan Firaun, semua butuh fase, semua butuh proses yang cukup panjang. Inilah organisasi.

Jalan terjal menuju musda? Ya, sudah saya uraikan jalan terjal yang harus saya lalui menuju musda, "Kegusaran Hati" dan rasa tidak puas, tapi harus disadari lah yang namanya Manusia memang tak luput dari kelemahan, selama sudah berupaya sebaik mungkin nilai positif pasti akan muncul. Saya percaya dan berharap, #RiseWithHope pasti akan ada, IPM Surabaya akan mencapai passionnya suatu saat nanti, insyaAllah.
More about#RiseWithHope1 : Jalan terjal menuju Musda, passion organisasi yg meledeak-ledak (maybe)

Etika Sosial Politik : Kebebasan dan Tanggung Jawab dalam kaitannya dengan Sosial Politik

Diposting oleh Adam Syarief Thmrn on Kamis, 28 Februari 2013


Adam Syarief Thamrin Hasibuan
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya



Tulisan ini adalah sepenggal dari tugas Etika Sosial & Politik yang diberikan oleh Bapak Drs. Gitadi Tegas Supramudyo (Dosen Pengamat Kebijakan Publik Fisip UA) untuk membedah secara singkat buku karangan K. Bertens, bab III

***
Kebebasan dan Tanggung Jawab merupakan pengertian dari dua kalimat yang berbeda tetapi maknanya keterkaitan dan bersinggungan. Sehingga, orang bisa menyatakan bahwa “Manusia itu Bebas” dan dengan sendirinya dia juga menerima pernyataan “Manusia itu Bertanggung-Jawab”. Dapat diartikan analogi tersebut bahwa Manusia itu bertanggung-jawab atas kebebasan yang dimilikinya tersebut. Sekarang, tidak mungkin sebuah kebebasan tidak disertai dengan tanggung-jawab, jika hal tersebut terjadi maka yang kita temui adalah sebuah kebebasan yang “kebablasan” tanpa batasan dan tanggung jawab yang jelas dari pemiliki kebebasan tersebut (Manusia).

Kebebasan
Pengalaman tentang kebebasan. Tidak ada manusia di dunia yang tidak mengerti tentang kebebasan, setiap manusia pasti mengerti dan paham karena manusia mengalami sebuah kebebasan tersebut. Tetapi, kebebasan tidak sebatas sebuah pemahaman yang dilakukan, aktifitas yang dilakukan dan dialami oleh manusia, tetapi pada hakikatnya kebebasan memiliki arti yang pas, namun demikian manusia yang mengalami kebebasan itu pun tidak dapat menjelaskan tentang apa itu kebebasan. Jika tidak ada orang menanyakan pada kita apa itu kebebasan maka kita yakin kita tahu karena kita mengalaminya, tetapi jika ada orang yang datang dan menanyakan apa itu kebebasan itu, kita menjadi bingung dan tidak bisa menjawab.
Kebebasan itu adalah hubungan antara “aku konkret” dan perbuatan yang dilakukannya (Henry Bergson 1859-1941) Dan filsuf Prancis yang banyak berpikir mengenai pengalaman tentang kebebasan ini menyimpulkan bahwa “Kebebasan merupakan suatu fakta dan di antara fakta-fakta yang ditetapkan orang tidak ada yang lebih jelas”. Dalam penjelasan tersebut, kata “Fakta” berarti adalah data langsung atau pengalaman batin yang benar-benar dialami.
Dalam realitas hidup manusia, kebebasan merupakan suatu realitas yang amat kompleks. Kebebasan memiliki banyak aspek dan banyak pula karakteristik.
Begitupun tentang kebebasan rakyat vs kekuasaan yang absolute seperti dijelaskan di buku Bertens yang mengangkat pernanan besar Negara di Eropa yang memiliki andil cukup luar biasa dam menjadi pelopor dalam mewujudkan kebebasan sosial-politik, Negara tersebut adalah Inggris dan Prancis. Di Inggris, pembatasan absolutism para raja berlangsung berangsur-angsur selama kurun waktu yang cukup panjang, salah satu contoh adalah keluarnya piagam Magna Charta (1215), piagam yang secara terpaksa dikeluarkan oleh Raja John untuk menganugerahkan kebebasan-kebebasan tertentu kepada raja Baron dan uskup Inggris. Seabad kemudian di Prancis absolutism para raja di lalui revolusi Prancis secara dramatis (1789), yang antara lain mengakibatkan raja Louis XVI dipenggal kepalanya, beberapa bulan kemudian disusul istrinya ratu Marie Antoinette. Penjelasan-penjelasan tersebut merupakan salah satu contoh mengenai kebebasan rakyat dan kekuasaan absolute yang pernah terjadi dibeberapa Negara di Eropa dahulu.

Pembahasan singkat mengenai kebebasan sosial politik menurut bentuk pertama dapat ditambahkan beberapa catatan, yang pertama ialah bahwa perwujudan kebebasan sosial politik ini tidak terbatas pada kedua Negara yang bersangkutan saja tapi mempunyai relevansi universal. Yang kedua, gagasan yang melatar-belakangi kebebasan sosial-politik dalam bentuk ini pada dasarnya bersifat etis. Tidak dapat dibenarkan, jika perkembangan dari monarki absolute ke demokrasi modern bukan suatu kenyataan historis, tetapi merupakan suatu keharusan etis. Tidak dapat dibenarkan jika perkembangan itu menempuh lagi arah yang terbalik. Selain itu, ada pula poin mengenai Kemerdekaan versus kolonialisme yang dituangkan Bertens dalam bukunya yang memiliki pokok bahasan focus kepada analisis kebebasan sosial-politik yang direalisasikan ke dalam proses dekolonisasi, dan ide kebebasan yang di berkembang di Negara-negara penjajah atau kolonialisme pada masa itu. Ada pula poin tentang kebebasan individual dan kesenang-senangan yang merupakan sebuah arti sempit dari sebuah kebebasan itu sendiri tanpa dimengerti apa hakikatnya.

Jika tidak diimbangi dengan berpikir yang panjang maka banyak manusia cenderung menerima dan merespon pengertian kebebasan ini atas pertanyaan  “Apa itu kebebasan”, secara spontan mereka menjawab “saya bebas jika saya bisa melakukan apa saja yang saya mau”. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena manusia selalu mencampur-adukkan kebebasan dengan rasa bebas. Maka, jika tidak merefleksikannya secara dalam maka akan terasa akan arti dan hakikat yang sama anatar kebebasan dan rasa bebas.
Kebebasan dalam arti kesewenang-wenangan sebenarnya tidak pantas disebut kebebasan, dalam kehidupan manusia dewasa ini sering ditemui penyalahgunaan arti kebebasan itu sendiri. Karena, bebas tidak berarti lepas dari segala keterikatan melainkan kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang mengandalkan keterikatan dan norma-norma. Jadi, norma-norma tidak menghambat adanya kebebasan tapi justru memungkinkan tingkah-laku bebas.

Beberapa masalah kebebasan
Kebebasan Negatif dan Kebebasan Positif. Secara implicit ada dua aspek yang melekat pada kebebasan itu sendiri, yakni aspek positif dan negative, Bertens dalam bukunya juga menggunakan analisis pendekatan positif dan negative dalam setiap penjelasan arti-arti tentang apa itu kebebasan.

Dua aspek kebebasan tadi dapat dirumuskan juga dengan mengatakan bahwa kebebasan bisa dimengerti sebagai “kebebasan dari…” dan “kebebasan untuk…”

Tanggung Jawab
Sama seperti pengertian dalam kaitannya “Tanggung Jawab” dapat diartikan, seseorang yang bisa menjawab dan memberikan penjelasan atau keterangan yang tepat saat ditanyai mengenai sikap atau perbuatan atau tingkah lakunya.
Keterkaitan antara tanggung jawab dan kebebasan. Analogi mudahnya, dalam setiap kebebasan yang dialami manusia, tentunya tidak begitu saja tanpa alasan dan penjelasan yang jelas dan hakiki, kebebasan yang dimiliki dan di alami manusia juga selalu disertai dengan rasa tanggung jawab yang tepat, dimana bisa memberikan keterangan dan menjelaskan yang tepat atas perbuatan dan tingkah laku yang dilakukan.

Tanggung Jawab Kolektif
Dalam pembahasan mengenai tanggung jawab yang selalu di titik fokuskan adalah tanggung jawab pribadi atau perorangan atau personal. Bagaimana dengan tanggung jawab kolektif? Beberapa etikawan menerima kemungkinan tanggung jawab kolektif tadi, tetapi tidak sedikit etikawan yang menolaknya dengan penjelasan-penjelasan yang berbeda-beda.

Tanggung jawab kolektif lebih kepada kesadaran personal yang memiliki peranan dan andil dalam suatu permasalahan yang tepat, contoh; unsure pimpinan yang bersifat kolektif yang kebijakannya berpengaruh pada orang banyak / massal. Karena, sulit menerima sebuah tanggung jawab moral, sebab sulit untuk diakui bahwa seseorang bisa bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak dilakukannya. Maka kembali lagi tanggung jawab kolektif kembali pada kesadaran personal dan keinginan untuk pembenahan yang lebih baik.
More aboutEtika Sosial Politik : Kebebasan dan Tanggung Jawab dalam kaitannya dengan Sosial Politik

Peran Organisasi Pelajar Dalam Peningkatan dan Penumbuhan Potensi

Diposting oleh Adam Syarief Thmrn




Adam Syarief Thamrin Hasibuan
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya

Sesuai dengan sebutannya “Pelajar” adalah pelaku belajar dimana memiliki hak dan kewajiban setara dalam hal Pendidikan dan Peningkatan Potensi. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah melaksanakan kewajibannya sebagai penyelenggara pendidikan Negara dengan melaksanakan program belajar dan program pendidikan bagi masyarakatnya, mulai dari Wajib Belajar 6 Tahun pada masa Presiden Soeharto hingga wajib belajar 12 Tahun dan mengupayakan pendidikan tinggi bagi pelajar yang telah menuntaskan wajib belajar 12 tahun tersebut. Tetapi, apakah pelajar cukup hanya disodori kegiatan-kegiatan akademik saja dan menjanjikan potensinya akan tergali dan tumbuh? Tentu tidak, Masa-masa pelajar adalah momen yang luar biasa dalam peningkatan potensinya, tidak cukup hanya dalam kegiatan wajib akademik dan belajar didalam kelas saja, tetapi dengan kegiatan-kegiatan lain yang dapat menunjang peningkatan potensi mereka.
Peran serta sebuah organisasi pelajar dalam peningkatan potensi pelajar memang sangat besar, bisa diambil contoh adalah; pesatnya bermunculan organisasi-organisasi berbasis pelajar yang ada saat ini adalah lahan potensial dalam “penggarapan” minat, bakat dan potensi pelajar. Kisaran target usia antara 12 – 23 tahun yang dapat disebut sebagai masa-masa produktif organisasi. Melalui kegiatan-kegiatan yang mengangkat peran pelajar dalam pengembangan potensi sangatlah dimungkinkan proses pengembangan potensi tersebut berjalan dan saling berdampak / berpengaruh.

Upaya “Penggarapan” dan Dinamika pengembangan berbasis karakter
Masa-masa saat ini, pegiat pendidikan Internasional sedang gencar-gencarnya melakukan kampanye Pendidikan berbasis Karakter pada pelajar usia SD/SMP dan SMA/Sederajat, tidak hanya sampai disitu, upaya yang juga digalakkan pemerintah Indonesia ini juga terus berkembang sampai ranah pendidikan tinggi dengan harapan Indonesia di tahun emas-nya nanti dapat mencetak lulusan-lulusan intelektual berkarakter.
Itu tadi peran pemerintah dan bidang formal didalamnya, lalu, bagaimana dengan organisasi pelajar? Pemerintah melalui Kementrian Pemuda dan Olahraga selalu menyebut organisasi khususnya organisasi berbasis masa pelajar merupakan mitra paling penting Pemerintah dalam upaya pengembangan pendidikan dan potensi. Tetapi sayangnya, kemitraan yang terjalin tidak diimbangi perhatian serius pemerintah pada organisasi-organisasi Pelajar. Memang, melalui Dispora masing-masing daerah sering melakukan Pembinaan Kepemudaan yang melibatkan ormas-ormas dan orpem/orpel bahkan dijadikan agenda rutin, tetapi sayangnya agenda-agenda pembinaan tersebut tidak spesifik dalam melakukan pembinaan organisasi yang dinaunginya dan diduga kegiatan-kegiatan itu lebih dan kurang dilaksanakan dalam rangka masa-masa tutup anggaran APBD dengan harapan Pemerintah Daerah mendapatkan kucuran dana lagi dari pusat dengan alih-alih untuk pengembangan pembinaan organisasi kepemudaan/pelajar yang nyata-nyatanya tidak spesifik sama sekali dilakukan.
Sungguh ironis sekali nasib organisasi kepemudaan / pelajar di Indonesia yang rata-rata memiliki visi futuristic yang kurang lebih rata-rata sama dalam rangka pengembangan potensi pemuda/pelajar yang ada didalamnya, tetapi malah dijadikan bahan “pengisi acara” dalam rangka kepentingan pemerintah.


More aboutPeran Organisasi Pelajar Dalam Peningkatan dan Penumbuhan Potensi

(Pemikiran) Kritis yang fanatik atau (Pemikiran) Kritis yang Terlampaui

Diposting oleh Adam Syarief Thmrn


Oleh Adam Syarief Thamrin Hasibuan
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya

***

Dewasa ini, waktu terlampau jauh melintasi gerak dan pemikiran kaum intelegensia muda yang kebanyakan dari mereka menyebut dirinya Aktivis Pemikir. Ada banyak kategori aktivis, yang kesemuanya itu senantiasa menyuarakan ide dan gagasan kritisnya disetiap aktivitas dan perlawanan terhadap sesuatu kehendak. Tetapi, saya hendak menyoal tentang kajian Kritis yang Fanatik yang sering dikait-kaitkan dengan suatu kelompok atau golongan tertentu, dan tentu saja rasional pemikiran mereka selalu berbeda antar setiap kelompok/golongan dengan yang lain. Ya, mereka menyebutnya landasan ideologi. Dan leluhur-leluhur golongan mereka lah yang menciptakan landasan ideologi tersebut yang kesemuanya menjadi patokan dan pakem aktivitas mereka. 

Menyoal Kritis yang Fanatik, saya akan mengkaji terlebih dahulu landasan definitif tentang kritis/pemikiran kritis dimulakan sebagai proses mengamati suatu permasalahan serta keinginan untuk meningkatkan pemahaman tentang permasalahan tersebut, Pemikiran kritis secara langsung dalam sebuah pemikirannya melibatkan 3 konsep cara pandang secara mental sekaligus yang diintegrasikan kedalam "Ke-Tunggalan dalam Cara Berpikir" 3 konsep itu tersebutlah; Analisis, Sintesis dan Penilaian. Dan, puncak ketunggalan dalam cara berpikir tersebut adalah memperhatikan dan berhati-hati dalam menganalisis pernyataan dalam mengkaji suatu masalah (baik itu rasional politik, sosial dinamis dan lain sebagainya) lainnya, selalu berhati-hati dalam mencari pembuktian yang kukuh dan logis untuk menarik sebuah kesimpulan yang hakiki dan benar

Pemikiran kritis boleh juga sebagai proses pemikiran secara teliti demi menjelaskan dan memperbaiki pengertian, dengan arti kata lain pemikiran kritis mendorong individu menguji kebenaran sesuatu masalah yang disoalkan tersebut. Seorang pemikir kritis tidak hanya pandai menggunakan kemahiran pendalaman persoalan (micro thinking) tetapi mempunyai sikap tertentu berkaitan dengan cara pandangnya terhadap suatu masalah tersebut.Pemikiran kritis mendorong individu bersifat rasional seperti berpendapat secara kritis,menilai dan menimbang berbagai pendapat dan gagasan sebelum membuat menarik kesimpulan. Pemikir kritis juga menilai Kesahihan (Shahih) dalam membuat atau menerima pernyataan seseorang

Untuk menguatkan penjelasan berpikir kritis dan Ketunggalan dalam cara berpikir berikut adalah kajian teori dari beberapa pemikir :

 Beyer (1985) berpendapat, pemikiran kritis adalah kebolehan manusia untukmembentuk konsep, memberi sebab atau membuat penentuan.

Pascarella dan Terenzini (1991, 2005) pula mendefinisikan pemikiran kritis sebagaikebolehan individu untuk mengenalpasti isu-isu dan membuat andaian untuk dibahaskan serta mengenal pasti hubungan penting untuk mendapatkan rumusan yang tepat daripada maklumat yang sedia ada

Menurut Dewey (1993), pemikiran kritis adalah berfikir secara serius dan mendalam serta membuat pertimbangan daripadanya

Selanjutnya, menyoal "Pemikiran krtis yang terlampau kritis". Adalah naif bagi aktivis pemikir yang selalu menyuarakan dan memposisikan diri serta mencoba melakukan generalisasi pemikiran terhadap suatu permasalahan atau kehendak pemikiran yang terkesan "Dipaksakan". Untuk tulisan singkat saya yang ke 4 ini, terpaksa saya harus mengatakan bahwa intelegensia dewasa ini sudah terlampau kritis dalam menyoal permasalahan dan ujung-ujungnya tentu non-solutif. Saya kagum dengan aktivis reformasi 1998, para aktivis mahasiswa tangguh luar biasa, pemikiran kritis tanpa batas yang berhasil menumbangkan rezim orde baru, tetapi sejatinya jika kita analisis bersama peristiwa 98, mereka lupa akan kebutuhan bangsa dan rakyat Indonesia saat itu, jika dengan aksi dan gejolak pemikiran yang mereka dengungkan saat itu berhasil menumbangkan Presiden Soeharto (Pemimpin Orde Baru) tapi apa yang terjadi selepas itu? Tidak ada solusi yang hakiki untuk sebuah perjuangan Reformasi bangsa Indonesia, kita hanya berganti pimpinan, berganti penguasa dan lebih tragisnya lagi bangsa Indonesia kala itu hanya berganti Dinasti. Kalaupun ada perubahan itu hanya 5% lebih sedikit. 

Tetapi, tetap mahasiswa Indonesia kala itu kita apresiasi luar biasa dengan ketangguhannya yang luar biasa, tetapi kembali lagi ke pokok permasalahan yang kita bahas, menyoal "Pemikiran kritis yang terlampau kritis". Tinggal kembali  dari individu pemikir itu sendiri bagaimana menilai dinamika pemikiran yang ia kembangkan sendiri

***  
More about(Pemikiran) Kritis yang fanatik atau (Pemikiran) Kritis yang Terlampaui

Comet Elenin Poses No Threat to Earth, NASA Says

Diposting oleh Adam Syarief Thmrn on Senin, 17 Desember 2012

Akhir-akhir ini, kita semua digegerkan dengan beredarnya informasi tentang "Masa kegelapan Bumi" yang jatuh pada 23,24 dan 25 Desember 2012 mendatang, banyak sekali argumen yang merespon jangkaan NASA tersebut baik dari sisi sains dan spiritual. Agar tidak terjadi Distorsi Informasi yang meluas, saya akan   menyajikan sebuah artikel ilmiah hasil karya Tariq Maliq, seorang Manajer Editor sekaligus editor senior di jurnal Space Online, berikut artikelnya

The comet Elenin is passing through the inner solar system right now and will make its closest approach to Earth on Oct. 16. The comet has sparked an Internet firestorm among believers who claim its approach is linked to Earth's destruction, a rogue "planet" called Nibiru and a NASA conspiracy to cover it all up.
Now NASA is stressing the simple truth: Comet Elenin is just an icy comet — and a wimpy one at that — which poses no threat to our planet.
Take, for example, Elenin's "close" approach to Earth. That closest point is still out in deep space, a distant 22 million miles (35 million kilometers) from our planet, NASA scientists explained in a statement released yesterday (Aug. 16). That's more than 90 times the distance from the Earth to the moon, they added.  
he speculations by comet Elenin doomsayers claiming that the comet will align with other planets or celestial bodies to wreak havoc on Earth are just not true, the space agency says.
"Any approximate alignments of comet Elenin with other celestial bodies are meaningless, and the comet will not encounter any dark bodies that could perturb its orbit, nor will it influence us in any way here on Earth," said Don Yeomans, a scientist at NASA's Jet Propulsion Laboratory in Pasadena, Calif. 
NASA's statement on comet Elenin stepped from a barrage of questions sent in by the public over the last few months to sort out fact from the digital fictions swarming across the Internet regarding the comet's appearance. [Best Close Encounters with Comets]
"Often, comets are portrayed as harbingers of gloom and doom in movies and on television, but most pose no threat to Earth," NASA officials said. "Comet Elenin, the latest comet to visit our inner solar system, is no exception."
Comet Elenin was discovered on Dec. 10, 2010 by astronomer Leonid Elenin of Lyubertsy, Russia, who made the find using a remote-controlled observatory based in New Mexico. At the time, the comet was about 401 million miles (647 million km) from Earth. It is fairly faint and not expected to dazzle skywatchers, NASA scientists have said.
Since then, the comet (officially known as C/2010 X1) has made its way into the inner solar system, giving rise to many rumors — some outlandish — that link comet Elenin to 2012 end-of-the-world theories and other disaster scenarios.
NASA's Tuesday statement counters many of those speculations in plain language. They include:
  • Will comet Elenin block out the sun, causing three days of darkness? No, the comet won't cross the face of the sun as seen from Earth, and even if it did it's much too small to have an effect.
  • Will the comet pass between the Earth and the moon? No, it will be 90 times farther way.
  • Will comet Elenin cause shifting tides or earthquakes on Earth? Not at all.
For that last one, Yeomans stressed that there is absolutely no way Elenin could affect life on Earth, aside from providing a target for skywatchers to gaze at with telescopes.
"So you've got a modest-sized icy dirtball that is getting no closer than 35 million kilometers [about 22 million miles)," Yeomans explained. "It will have an immeasurably miniscule influence on our planet. By comparison, my subcompact automobile exerts a greater influence on the ocean's tides than comet Elenin ever will."
Comet Elenin and a hidden object?
Another theory rampant on the Internet is that comet Elenin is actually a type of failed star known as a "brown dwarf," or could be affected by another unknown planet or star, such as a rogue object called Nibiru suggested by many believers or brown dwarf star. NASA received questions on that as well.
 "A comet is nothing like a brown dwarf. You are correct that the way astronomers measure the mass of one object is by its gravitational effect on another, but comets are far too small to have a measureable influence on anything," said David Morrison of the NASA Astrobiology Institute at the NASA Ames Research Center in Moffett Field, Calif.
And another scenario — that a brown dwarf, or even a so-called "black dwarf" star, could be hidden from NASA's view — is also not possible, Morrison added.
"If we had a brown dwarf star in the outer solar system, we could see it, detect its infrared energy and measure its perturbing effect on other objects," Morrison said. "There is no brown dwarf in the solar system, otherwise we would have detected it. And there is no such thing as a black dwarf."
According to NASA, the best time to spot comet Elenin in telescopes will be in early October. Binoculars or telescopes are required because of the comet's dim appearance.
Whether the comet will be visible to the unaided eye, however, remains to be seen.
"This comet may not put on a great show. Just as certainly, it will not cause any disruptions here on Earth. But, there is a cause to marvel," Yeomans said in the statement. "This intrepid little traveler will offer astronomers a chance to study a relatively young comet that came here from well beyond our solar system's planetary region. After a short while, it will be headed back out again, and we will not see or hear from Elenin for thousands of years. That's pretty cool."
More aboutComet Elenin Poses No Threat to Earth, NASA Says